Memotret Pendidikan Milenial dari Sudut Pandang Bapak Republik [Release SDN ke-93]

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” telah ditempatkan sebagai salah satu tujuan konstitutional pendirian Negara Indonesia. Instrumen utama pencapaian tujuan tersebut diwujudkan dengan penyelenggaraan pendidikan. Kehidupan bangsa tentu tidak terbatas satu dimensi, tetapi berbagai dimensi dengan fokus terhadap manusianya. Dengan demikian pendidikan sepantasnya mampu membangun jiwa dan intelektualitas setiap warga negara. Ringkasnya, pembangunan manusia seutuhnya, antar-generasi dan intra-generasi.

Apakah penyelenggaraan pendidikan telah menyasar pada pembangunan jiwa dan intelektualitas?. Pertanyaan ini mungkin terlalu naif dan normatif. Akan tetapi, apabila menilik konteks historis dan kontemporer, pertanyaan tersebut akan menemukan relevansinya.

Pertama, historis pendidikan di Indonesia mengakar kuat budaya feodalisme dan kolonialisme. Titik persamaan keduanya dilandasi pondasi diskriminatif. Tentu saja, hal ini memberikan ruang. I’exploitation de I’homme par I’homme.  Kedua, pendidikan kontemporer ditandai dengan respon yang tinggi terhadap adopsi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sisi lain, upaya menggali dan meletakan pondasi dasar pendidikan nasional yang sesuai dengan karakteristik ke-Indonesia-an tidak menjadi arus utama.

Praktek dan impact pendidikan (formal) kontemporer jelas dirasakan langsung oleh generasi saat ini (red: generasi milenial). Pengalaman setiap individu generasi milenial tidak homogen. Walau demikian segelintir dari mereka merasakan kegelisihan terhadap praktek pendidikan (formal) kontemporer. Kegelisahan tersebut salah satunya berkaitan dengan “kuatnya tempaan aspek kompetensi, tetapi justru redup sentuhan aspek pembangunan jiwa”.

Pandangan di atas jelas tidak merepresentasikan keseluruhan generasi milenial. Akan tetapi, hal tersebut tetap harus menjadi perhatian. Karena itu, Serial Diskusi Nusantara (SDN) ke-93 menyajikan topik “Memotret Pendidikan di Era Milenial dari Sudut Pandang Bapak Republik”. Diskusi dilaksanakan pada Sabtu, 3 Maret 2018 bertempat di Gedung Pusat Informasi Kehutanan Fahutan IPB. Audelia Thalita Ramadhanti (Audy) Mahasiswa Fahutan IPB ’53 bertindak sebagai pemantik diskusi. Audy sendiri mulai menekuni naskah-naskah Tan Malaka sejak SMP.

Bapak Republik di sini adalah Tan Malaka. Sebutan tersebut merujuk pada kiprah dan pemikiran Tan Malaka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia[1]. Semasa hidupnya, Tan Malaka juga berupaya meletakan pondasi pendidikan harus mempertimbangkan karakteritik keTimuran. Tan Malaka menyadari bahwa pendidikan dapat menopang perjuangan kemerdekaan. Karena itu, Tan Malaka dapat disejajarkan dengan tokoh seperti Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat).

Sebagai bagian dari generasi milenial, Audy memaparkan pengalaman dan pengamatannya terhadap realita pendidikan (formal) kontemporer (tacit knowledge). Pertama, pendidikan (formal) kontemporer (tingkat menengah-perguruan tinggi) diletakan sebagai sarana memantapkan “status sosial” dan instrumen untuk memupuk pundi-pundi kekayaan (materi). Karena itu, setiap peserta didik terus dipacu untuk meraih hasil akhir sebaik-baiknya dalam aspek nilai dan kompetensi. Outputnya diarahkan terhadap kemampuan daya saing peserta didik, terutama dalam hal mendapat pekerjaan, baik di level nasional maupun internasional.

Kedua, perubahan sistem pendidikan (formal) tidak dilandasi perubahan filosofis. Contohnya, pergantian kurikulum sekedar menambah mata ajaran dan jam pelajaran. Perubahan lainnya sebatas penggunaan teknologi kegiatan belajar mengajar maupun pelaksanaan ujian. Di sisi lain, sistem pendidikan (khususnya tingkat SMA) juga turut mengarahkan perspektif peserta didik diskriminatif terhadap ilmu-ilmu sosial.

Karena itu, sistem pendidikan dan berbagai perubahannya cenderung mengabaikan proses, terutama berkaitan dengan pilihan pengembangan bakat dan “pergaulan sosial” peserta didik. Kondisi demikian berimplikasi terhadap pembentukan karakter dan mindset “generasi milenial” sebagai “pionir-pionir muda” menjadi individualis. Di samping itu, kepekaan sosial atau empati terhadap sesama mulai terkikis, terutama terhadap mereka yang sosial-ekonominya perlu prioritas lebih.

Pencapaian akademik (gelar dan prestasi) cenderung membentuk perspektif superior. Ringkasnya, sistem pendidikan (formal) tidak menciptakan struktur sosial masyarakat baru yang egaliter, tetapi turut merevitalisasi feodalisme. Dengan demikian kekhawatirannya adalah “pionir-pionir muda” tidak lagi mendedikasikan dirinya terhadap upaya memecahkan persoalan bangsa (problem solving). Pada akhirnya, “mereka yang tertindas akan terus tertindas, yang bodoh akan terus terbelenggu dalam kebodohan”.

Konsepsi tentang pendidikan telah dirumuskan Tan Malaka sebelum kemerdekaan[2]. Tan Malaka meletakan pendidikan sebagai alat pembebasan, atau bukan sebaliknya sebagai alat penindasan. Sebagai sebuah alat, penyelenggaraan pendidikan harus sesuai dengan kondisi material masyarakatnya (realitas sosial-ekonomi-budaya).

Pendirian SI School Semarang di tahun 1921 adalah manifestasi gagasan Tan Malaka di lapangan pendidikan. Tan Malaka menempatkan tiga pondasi utama pendidikan sekaligus menjadi antitesis pendidikan kolonial yang diskriminatif sebagai berikut.

  1. Memberi senjata cukup untuk mencari penghidupan (berhitung, menulis, ilmu bumi, dan bahasa).
  2. Memberi haknya peserta didik yaitu, kesukaan hidup dengan jalan pergaulan (verenniging).
  3. Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo.

Pondasi pertama menekankan pentingnya memberdayakan diri sendiri dengan kemampuan atau kapasitas sendiri. Pondasi kedua melatih bersosial dan tidak menjadi individualis. Pondasi ketiga melatih untuk senantiasa membangun empati terhadap sesama, terutama mereka yang ter(di)marginalkan. Keseluruhan pondasi tersebut menempatkan Tan Malaka sebagai salah satu penggagas awal pendidikan kerakyatan (didikan kerakyatan) atau pedagogi transformatif. Hal ini menunjukan bahwa karya Tan Malaka sesungguhnya sudah lebih dahulu dari Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Paulo Freire tahun 1970[3].

Tan Malaka telah memberikan pelajaran agar kita senantiasa menjadi “subject” -memanusiakan diri kita sendiri dan memanusiakan orang lain-. Berpikir kritis, membina hubungan sosial, dan membangun empati diperlukan banyak latihan, baik di ruang pendidikan (formal) maupun di ruang lainnya. Dengan banyak latihan secara individu dan kolektif, maka tujuan pendidikan yang dicita-citakan Tan Malaka  mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan dan memperhalus perasaan” menjadi sebuah keniscayaan.

Bagi “pionir-pionir muda” yang telah memilih dengan sadar maupun terpaksa menempuh pendidikan di IPB, pertanian tidak hanya aspek teknis semata, tetapi juga manusianya. Persiapkan diri dan teruslah berlatih berpikir kritis, membina hubungan sosial dan membangun empati terhadap “subject” pertanian. Apabila pendidikan membuat kaum muda merasa tinggi dan pintar untuk melebur pada masyarakat yang bekerja dengan cangkul, maka sebaiknya pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” (Malaka 1943).

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya!!!

Sadarlah hatinya, sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya!!!

Majulah negerinya, majulah pandunya, untuk Indonesia Raya!!!

*****

[1]Naskah penting kontribusi pemikiran Tan Malaka terhadap pembentukan Republik Indonesia yaitu, Parlemen atau Soviet? (1921) dan Naar de Republiek Indonesia (1925).

[2]Tan Malaka menawarkan Madilog (1943) sebagai landasan kerangka pikir, sedangkan salah satu naskah kunci gagasan tentang pendidikan termuat dalam SI Semarang dan Onderwijs (1921).

[3]Pedagogy of the Oppressed diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas diterbitkan LP3ES Tahun 1985.

2 thoughts on “Memotret Pendidikan Milenial dari Sudut Pandang Bapak Republik [Release SDN ke-93]”

  1. Sepertinya pendidikan zaman sekarang cukup tak relevan dengan anak milenial. cuma masalahnya anak-anak di pelosok desa sana, memang milenial namun tak seperti anak milenial, karena pengaruh internet masih kurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *