Petani dan Kelas Tani

Pendefinisian petani (peasent) dewasa ini sudah terdistorsi, peasent seringkali disamakan dengan pengusaha petani (farmer). Kedua hal tersebut merupakan suatu hal yang berbeda bila ditinjau dari sisi manapun.  Menurut (KBBI), petani didefinisikan sebagai orang yang pekerjaannya bercocok tanam. Dari definisi tersebut belum diketahui batasan-batasan dari pengertian petani itu sendiri. Dalam tinjauan sistem ekonomi terdapat perbedaan yang jelas antara peasent dan farmer. Dalam tinjauan sistem ekonomi menurut firth dalam Marzali (1998), peasent menggunakan sistem ekonomi dengan teknologi dan pembagian kerja yang sederhana serta skala produksi yang kecil dan bersifat non-kapitalistik.

Peasent sendiri sangat erat kaitannya dengan terbentuknya masyarakat perkotaan. Peasent terbentuk akibat terbentuknya kota, tanpa adanya kota peasent tidak akan pernah terbentuk (Marzali 1998, Redfield 1953). Dalam kaitannya dengan kota, terbentuk batasan antara peasent dan farmer dalam tinjauan sosial-ekonomi-politik-budaya. Batasan ini dapat dilihat dari sifat usaha pertanian yang dilakukan dimana peasent  memiliki usaha tani subsistensi atau pengolahan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari sedangkan farmer memiliki usaha tani yang bersifat kaptalistik dimana produksi dilakukan dalam rangka menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Indonesia sendiri merupakan Negara agraris dimana peran petani sangat penting dalam keberlangsungan Negara. Menurut BPS (2018), dalam Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (Sutas) 2018 menunjukan jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani sebanyak 33.487.806 jiwa dengan petani berjenis kelamin laki-laki sebanyak 25.436.478 jiwa dan petani berjenis kelamin perempuan sebanyak 8.051.328 jiwa. Angka ini menunjukan bagaimana sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting disamping pertanian yang merupakan golongan produktif dalam menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup manusia (Hardiyanto dan Wiradi 1998).

Menurut Hardiyanto dan Wiradi (1998), petani atau peasant termasuk kedalam golongan kelas bawah yang mempunyai kepentingan memperoleh jaminan kelancaran produksi serta bisa memberikan kemakmuran dengan membebaskan diri dari pemerasan dan penindasan. Secara sederhana, kepentingan kelas petani ialah terjaminnya segala unsur yang berkaitan dengan kehidupannya. Unsur-unsur tersebut diantaranya ialah sarana produksi tani, bebas dari pemerasan dan penindasan, serta meningkatnya kemakmuran melalui produktivitas tinggi dan harga jual yang layak.

Masalah-masalah yang dihadapi kelas petani cukup beragam, seperti kapitalisme yang menyebabkan timbulnya kelas-kelas sosial dalam masyarakat pedesaan. Menurut Hardiyanto dan Wiradi (1998), Kelas sosial yang terbentuk tersebut diantaranya :

Kelas Sosial Luas Lahan Kecenderungan
Kapitalis Industri Pertanian Ratusan hingga ribuan hektar Keuntungan didapat melalui projek-projek besar dengan jalan menggusur tanah petani-petani kecil
Petani Kapitalis 2 hingga 10 hektar Mempunyai buruh tani, dan biasanya merupakan orang kaya di pedesaan yang memiliki sumber pendapatan lain
Petani Menengah ½ hingga 2 hektar Cenderung ingin memperluas lahannya akan tetapi sering dirugikan karena pencaplokan lahan oleh petani kaya atau kapitalis industri pertanian
Petani Kecil ¼ hingga ½ hektar Kepemilikan lahan biasanya bukan tanah milik melainkan tanah Negara yang sudah lama di garap untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan. Kelas ini sering menjadi korban kapitalis industri pertanian dan petani kapitalis serta ancaman kebijakan yang ditetapkan Negara
Buruh Tani Tidak memiliki tanah (Tunakisma) Kelas ini bekerja untuk pemilik lahan dengan upah yang cenderung belum memenuhi kebutuhan mereka. Kelas ini merupakan kelas termiskin  dan korban pemiskinan di pedesaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *